2.Kegunaan Studi Sosiologi Dalam Kehidupan sosial
Studi sosiologi
bermanfaat dalam mengungkapkan memahami, dan memecahkan berbagai gejala
atau krisis dalam kehidupan sosial yang akhirnya bermanfaat sebagai suatu
alternative memecahkan problema kehidupan social. gejala social yang normal
adalah gejala social yang wajar seperti norma norma, kelompok kelompok social,
lapisan lapisan social, lembaga lembaga social, proses sosial, perubahan
perubahan sosial dan kebudayaan serta perwujudannya. Gejala abnormal atau
gejala gejala patologis, disebabkan karena unsur unsur tertentu dalam
masyarakat tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, sehingga menyebabkan
kekecewaan bahkan penderitaan bagi warga masyarakat.
Problema sosial ini
berbeda dengan problema lainnya di dalam masyarakat, problema sosial ini erat
hubungannya dengan nilai nilai sosial dan lembaga lembaga kemasyarakatan yang
bersifat sosial. Untuk mengklasifikasi suatu persoalan sosial dipergunakan
penilaian sebagai pengukurnya. Apabila masyarakat menganggap sakit jiwa,
bunuh diri, perceraian, penyalahgunaan obat obatan bius, sebagai problema
sosial, maka masyarakat tersebut tidak semata mata menunjuk pada tata kelakuan
yang menyimpang, akan tetapi sekaligus juga mencerminkan ukuran-ukuran
umum mengenai segi moral.
§ John L.Gillin dan John Philip (1954:740) menyebutkan bahwa problema sosial adalah sesuatu
ketidaksesuaian antara unsur-unsur dalam kebudayaan atau masyarakat.
§ Samuel Koenig (1957) membedakannya
sebagai demikian, problema masyarakat adalah yang menyangkut analisis
tentang macam-macam gejala kehidupan masyarakat. sedangkan problema sosial
adalah masalah yang menyangkut penelitian tentang gejala-gejala ubnormal yang
terjadi didalam masyarakat dengan maksud memperbaikinya.
§ John L.Gillin dan John Philip (1954: 739) mengatakan bahwa problema sosial bukan merupakan bagian dari
sosiologi, karena sebenarnya problema-problema sosial merupakan hasil-hasil
dari proses perkembangan masyarakat.
§ Soejono Soekanto (1984:
11) menyebutkan bahwa problema sosial merupakan bagian dari sosiologi, karena
di Amerika serikat ada kecenderungan yang besar untuk memilih sosiologi sebagai
sarana ilmiah untuk memperbaiki masyarakat, ini terjadi di era 1960
– an.
Dasar pengklasifikasian problema-problema
sosial yaitu :
·
Faktor ekonomis
·
Faktor Biologis
·
Faktor Bio-psikologis
·
Faktor kebudayaan
Arti luas
pengklasifikasian problema-problema sosial dapat berupa,
kepincangan-kepincangan dalam warisan fisik, warisan biologis, warisan sosial
dan kebijaksanaan sosial.
Contoh gambaran beberapa problema sosial :
·
Peperangan
·
Perpecahan dalam
keluarga
·
Masalah generasi muda
·
Kemiskinan
·
Tindakan kejahatan
Cara
sosiologi memecahkan problema-problema sosial dilakukan dengan
menggunakan metode-metode preventif dan represif. Pada metode preventif usaha yang dilakukan lebih
jelas, oleh karena didasarkan pada penelitian yang mendalam terhadap
sebab-sebab terjadinya problema-problema sosial. Sedangkan pada metode represif usaha yang dilakukan
terlebih dahulu setelah suatu gejala dapat dipastikan sebagai problema
sosial, setelah itu baru diambil langkah-langkah tindakan untuk mengatasinya.
2.1 Kegunaan
Studi Sosiologi Dalam Penelitian dan Ilmu Pengetahuan
Soedjono Dirdjosisworo(1982: 73) sosiologi akan bermanfaat
sebagai daya dorong dan daya tarik terhadap kemajuan berbagai disiplin baik
dari segi penelitian ilmiyah, maupun ilmu pengetahuan. Oleh karena itu dapat
disebutkan bahwa sosiologi ini memiliki nilai guna untuk penelitian dan ilmu
pengetahuan. Sebagai contoh perihal hasil penelitian komunikasi massa yang
berhubungan erat dengan studi sosiologi yaitu:
·
Cenderung memperkuat sikap dan pendapat-pendapat yang
telah ada.
·
Efektivitas massa tergantung pada kedudukan dan perana
komunikator
·
Isi komunikasi massa ditafsirkan menurut nilai-nilai
dan norma-norma
·
Komunikasi massa dapat dipergunakan sebagai sarana
untuk sikap-sikap mengenai bidang-bidang kehidupan yang netral.
Metode-metode penelitian yang dimiliki
sosiologi dapat diterapkan pada hampir semua aspek kehidupan manusia, terutama
aspek yang berhubungan dengan interaksi antarindividu dalam kelompok
masyarakat. Informasi sosiologi yang disajikan selalu diperoleh melalui
metode-metode ilmiah yang sudah teruji dan tidak diragukan manfaatnya.
Sosiologi secara kategoris ternyata tidak
lebih rendah daripada ilmu-ilmu lainnya. Oleh karena itu, para ahli sosiologi
banyak yang dilibatkan dalam bidang telah ilmiah, khususnya sebagai pencari
data. Para ahli sosiologi banyak yang dilibatkan untuk duduk dalam berbagai
jabatan, seperti bidang personalia, hubungan kerja atau hubungan perburuhan dan
pencemaran lingkungan
2.2 Kegunaan
Studi Sosiologi dalam Pembangunan
Pembangunan atau social development adalah
suatu proses perubahan yang direncanakan secara matang untuk merubah struktur,
sistem, dan organisasi sosial. Menurut Soerjono Dirdjosisworo (1982: 74) tidak disangsikan
lagi bahwa setiap pembangunan membutuhkan sosiologi sebagai sarana penyusunan
program yang lebih mantap. Proses pembangunan perlu dikaitkan dengan pandangan
yang optimis untuk mencapai taraf hidup yang lebih baik. Untuk mencapai taraf
hidup lebih baik, diperlukan cara struktural dan spiritual sebagai berikut:
·
Struktural (perencanaan, pembentukan, dan evaluasi lembaga
masyarakat).
yaitu perencanaan, pembentukan dan evaluasi lembaga kemasyarakatan,
prosedur serta pembangunan fisik
·
Spiritual (pembentukan watak, cara berfikir, ilmu
pengetahuan dan teknologi) yaitu pembentukan watak dan pendidikan, khususnya
cara berpikir terhadap ilmu pengetahuan
dan teknologi.
Prioritas utama dalam pembangunan adalah
perbaikan ekonomi secara menyeluruh dan merata, baik pada lapisan elit maupun
lapisan bawah. Secara sosiologis, hasil pembangunan hendaknya dapat dinikmati
seluruh masyarakat, terutama masyarakat miskin. Pembangunan semacam ini,
biasanya terwujud pada kegiatan untuk melengkapi kebutuhan materiil, seperti
pakaian, pangan, kesehatan, pendidikan dan keamanan. Pelaksanaan pembangunan
ditujukan pada pemberantasan hal-hal
yang berkaitan dengan kemiskinan yang umumnya melanda negara-negara yang sedang
berkembang
Kegunaan sosiologi dalam pembangunan sudah jelas, yaitu memberi peran
dalam mengidentifisi hal-hal yang berhubungan dengan kepentingan pembangunan
itu sendiri seperti dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembangunan.
2.4 Kegunaan Sosiologi Dalam Perencanaan
Sosial dan Pemecahan Masalah Sosial
Perencanaan sosial adalah suatu kegiatan untuk mempersiapkan masa depan
secara ilmiah. Maksudnya untuk mengatasi kemungkinan timbulnya masalah.
Perencanaan sosial lebih bersifat preventif karena kegiatannya memberi pengarahan dan bimbingan sosial mengenai cara-cara
hidup masyarakat yang baik. Menurut
Ogburn dan Nimkoff, suatu perencanaan sosial yang baik dan efektif adalah
sebagai berikut:
1.
Adanya unsur modern dalam masyarakat yang mencakup
suatu sistem ekonomi yang telah menggunakan uang, urbanisasi yang teratur,
inteligensia di bidang teknik dan ilmu pengetahuan, dan sistem administrasi
yang baik.
2.
Adanya sistem pengumpulan keterangan dan analisis yang
baik. 3.
3.
Terdapatnya sikap publik yang baik terhadap usaha-usaha
perencanaan sosial tersebut.
4.
Adanya pemimpin ekonomi dan politik yang progresif.
v Kegunaan Sosiologi dalam Perencanaan Sosial
antara lain:
1) Sosiologi mengkaji perkembangan kebudayaan
masyarakat dari taraf tradisional sampai pada taraf modern. Dengan demikian,
dalam memasyarakatkan perencanaan sosial akan relatif mudah dilaksanakan.
2) Sosiologi mengkaji hubungan manusia dengan
alam sekitarnya, hubungan antargolongan dalam masyarakat, dan mempelajari
proses perubahan dalam masyarakat. Oleh karena itu, cara kerja sosiologi
mengenai rancangan terhadap masa depan relatif lebih dapat dipercaya.
3) Sosiologi merupakan disiplin ilmu yang
objektif sehingga pelaksanaan
perencanaan sosial diharapkan lebih sedikit penyimpangannya.
4) Perencanaan sosial secara sosiologi
merupakan alat untuk mengetahui
perkembangan kehidupan masyarakat. Dengan demikian, perencanaan tersebut
bermanfaat dalam menghimpun kekuatan.
v Kegunaan Sosiologi dalam Pemecahan Masalah
Sosial
Masalah
sosial adalah masalah yang ditimbulkan oleh masyarakat itu sendiri. Pernyataan
itu dikatakan Roucek dan Warren. Dengan demikian, masalah sosial adalah masalah
yang melibatkan sejumlah besar manusia. Masalah yang tergolong masalah sosial
murni adalah masalah yang berhubungan dengan terjadinya benturan
antarinstitusi, rendahnya pengawasan sosial atau kegagalan menggunakan
kaidah-kaidah teknologi yang tepat.
Adanya
gejala masalah sosial, erat hubungannya dengan kurang terjaminnya kehidupannya
ekonomi, kurang baiknya kesehatan masyarakat, merosotnya kewibawaan pemimpin
dan adanya berbagai konflik dalam masyarakat. Disebut sebagai masalah sosial
karena gejala dan peristiwa tersebut tidak dipahami oleh masyarakat serta tidak
dapat diselesaikan masyarakat karena sebagain besar masyarakat tidak dapat
mencapai kepuasan, akhirnya masyarakat menjadi frustasi. Ada dua metode untuk
menanggulangi masalah sosial, yaitu:
1) Metode
preventif, dilakukan
dengan mengadakan penilaian yang mendalam terhadap gejala-gejala sosial.
2) Metode
represif adalah proses penanggulangan secara langsung terhadap masalah
sosial yang sedang tumbuh dan dirasakan masyarakat.
2.5. Peran Sosiologi dalam
Kehidupan Sosial
1. Peran
sebagai seorang ilmuwan( Ahli Riset) Yaitu mencari dan mengorganisasi ilmu pengetahuan tentang kehidupan
sosial. Seperti semua ilmuwan lainnya, para
sosiolog perhatian pada pengumpulan dan
penggunaan data.
Sosiolog bekerja sama dengan menggunakan berbagai cara dalam mengembangkan ilmu
sosiologi. Misalnya, sosiolog memimpin riset ilmiah mencari data tentang
kehidupan sosial masyarakat. Kemudian, data yang diperoleh diolah menjadi suatu
karya ilmiah yang berguna bagi pengambil keputusan. Dengan demikian, seorang
sosiolog harus mampu menjernihkan berbagai anggapan keliru yang berkembang
dalam masyarakat.
Dari hasil
penelitiannya, sosiolog bisa menghadirkan kebenaran-kebenaran. Selain itu,
dapat juga meminimalisasi dampak negatif yang mungkin ditimbulkan oleh
kekeliruan dalam suatu masyarakat. Oleh sebab itu, seorang sosiolog bisa
menghadirkan ramalan sosial berdasarkan pola-pola atau kecenderungan serta
perubahan-perubahan yang paling mungkin terjadi.
2. Peran
sebagai konsultan kebijaksanaan sosial Yaitu memberikan konsul dalam bentuk kemampuan memperkirakan atau
meramalkan tentang pengaruh kebijaksanaan sosial yang dirancang dan dijalankan
oleh pemerintah terhadap masyarakatnya.
Berdasarkan ilmu, kajian-kajian, serta riset yang dilakukannya,
sosiolog dapat memberikan masukan terhadap kebijakan untuk masyarakat yang akan
diputuskan oleh para pengambil kebijakan.
Sosiolog membantu menganalisis serta memperkirakan pengaruh yang
akan terjadi jika suatu kebijakan diambil dan diterapkan oleh pemerintah pada
suatu masyarakat tertentu.Sosiolog juga dapat menganalisis pembangunan seperti
apa yang cocok bagi suatu masyarakat. Hal ini bertujuan agar kebijakan yang diambil oleh pemerintah memenuhi
suatu harapan serta menghasilkan pengaruh yang diinginkan
3. Peran
sebagai teknisi Yaitu peran
sosiolog terlibat dalam progam pelaksanaan dan perencanaan program kegiatan masyarakat, hubungan antar
karyawan,dan hubungan antar kelompok dalam suatu organisasi.
Beberapa sosiolog terlibat dalam
perencanaan dan pelaksanaan kegiatan masyarakat. Mereka member saran-saran,
baik dalam penyelesaian berbagai masalah hubungan masyarakat, masalah moral,
maupun hubungan antar kelompok dalam suatu lembaga masyarakat. Dalam kedudukan
seperti ini, sosiolog bekerja sebagai ilmuwan terapan (applied scientist).
Mereka dituntut untuk menggunakan
pengetahuan ilmiahnya dalam mencari nilai-nilai tertentu, seperti
efisiensi kerja atau efektivitas suatu program pembangunan, ataupun suatu
kegiatan masyarakat
4. Peran
sebagai pendidik Yaitu
melakukan kegiatan mengajar dan ini adalah karir utama bagi sosiolog, dalam
usahanya terus belajar mengembangkan teori dan aplikasi teori dalam proses belajar mengajar.
Guru atau pendidik mempunyai tugas
mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta
didiknya. Namun, tugas guru tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan,
khususnya tugas guru dalam mengajarkan ilmu-ilmu sosiologi. Stereotip yang
muncul dari pengajaran sosiologi adalah terlalu bertele-tele, menjenuhkan, dan
teorinya membingungkan. Stereotip negatif tersebut dapat membuat minat dan
motivasi belajar peserta didik merosot.
Oleh sebab itu, sosiolog yang berperan
sebagai seorang guru sosiologi hendaknya bertugas menjelaskan dan meluruskan
stereotip tersebut, di samping bisa
terus mengembangkan dan menularkan ilmu pada siswanya dengan baik. Berkaitan
dengan tugasnya sebagai guru atau pendidik, seorang sosiolog dalam menyajikan
fakta harus bersikap netral dan objektif.
Contohnya,
dalam menyajikan masalah kemiskinan, seorang sosiolog tidak boleh menciptakan
anggapan sebagai pendukung suatu proyek tertentu atau mengubahnya sehingga
terkesan reformis dan konservatif. Sosiolog dapat menyajikan contoh-contoh
konkret tentang bagaimana keterlibatan mereka dalam pemecahan masalah-masalah sosial serta
menunjukkan apa yang telah mereka
pelajari dari pengalaman-pengalaman di lapangan.
2.6 Beberapa Manfaat Sosiologi
1. Memahami keragaman budaya
masyarakat
Salah satu
unsur dalam masyarakat yang menjadi objek kajian sosiologi adalah budaya.
Setiap masyarakat memiliki budayanya masing-masing. Budaya masyarakat ada yang
tradisional dan ada yang modern. Sosiologi mempelajari budaya masyarakat yang
sangat kompleks. Kompleksitas menyiratkan adanya keragaman yang rumit. Dengan
mempelajari sosiologi, pembelajar tentunya juga mempelajari aneka ragam budaya
masyarakat. Pengetahuan akan keragaman ini bisa digunakan untuk menumbuhkan
sikap toleran terhadap budaya lain di masyarakat.
2. Menumbuhkan jiwa sosial yang
tinggi
Mempelajari
sosiologi adalah mempelajari kehidupan sosial orang-orang yang berbeda dengan
kita. Perbedaan tersebut bisa meliputi segala aspek. Diferensiasi sosial adalah
kenyataan yang ada di masyarakat. Perbedaan perilaku dan tindakan sosial sering
dapat kita pahami dengan cara merefleksikan diri kita ketika berada di posisi
orang lain. Upaya refleksi ini bisa meningkatkan rasa empati yang tinggi. Tak
jarang ketika belajar sosiologi, kita didorong untuk ”berjalan memakai sepatu
orang lain”, artinya merasakan apa yang orang lain rasakan.
3. Meningkatkan kemampuan berpikir kritis
Sosiologi
mengajarkan anak didiknya untuk tidak menerima kenyataan begitu saja tanpa
refleksi dan peneyelidikan lebih lanjut. Realitas sosial yang ada di sekitar
kita tidak terjadi begitu saja, melainkan hasil interaksi kehidupan sosial yang
diciptakan manusia. Sebagai contoh, realitas sosial di masyarakat mengatakan
bahwa acara TV alay digemari masyarakat Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan
ratingnya yang tinggi. Pembelajar sosiologi tidak akan menerima argumen itu
begitu saja. Sosiologi mengajarkan kita untuk melakukan refleksi dengan
bertanya, misalnya, siapa saja pihak yang diuntungkan dengan argumentasi
tersebut, apakah masyarakat kita menonton acara alay karena pilihan mereka atau
karena tidak ada acara lain, apakah komisi penyiaran tidak punya wewenang
menentukan jenis acara, apakah acara alay memiliki nilai positif, dan
sebagainya.
4. Mendorong terciptanya integrasi sosial
Manfaat
sosiologi sebagai pendorong terwujudnya integrasi sosial bisa dipahami dalam
konteks kebangsaan yang multikultur dan multietnis. Terkait dengan apa yang
sudah disebutkan sebelumnya bahwa sosiologi mengajarkan keragaman budaya pada
pembelajarnya, pembelajar sosiologi diajarkan pula untuk berintegrasi secara
sosial ditengah keragaman budaya. Pengetahuan akan keragaman bisa menjadi
fondasi spirit toleransi antar budaya dan etnis. Saling kepahaman antar
masyarakat dengan latar belakang budaya yang berbeda merupakan modal besar
untuk menciptakan integrasi atau kesatuan sosial. Integrasi sosial merupakan
bentuk kehidupan sosial yang solid dan harmonis.
Manfaat sosiologi yang telah diulas di atas
tentu hanya segelintir saja dari banyak manfaat lain yang bisa dirasakan.
Pembelajar sosiologi atau pembelajar ilmu sosial pada umumnya akan menerima
manfaat secara langsung bila menekuni apa yang dipelajarinya. Manfaat tersebut
bisa dirasakan pada level personal dan bisa pula sampai pada level masyarakat
ketika ilmu yang sudah dipelajari diamalkan. Pengamalan ilmu pengetahuan tentu
tidak boleh hanya menguntungkan diri pribadi, melainkan harus bisa dirasakan
oleh masyarakat.
0 komentar:
Posting Komentar