Sabtu, 28 September 2019

Perkembangan masa awal anak-anak

Pendahuluan
Masa kanak-kanak dimulai setelah melewati masa bayi yang penuh ketergantungan, yakni kira-kira usia dua tahun sampai saat anak matang secara seksual, kira-kira tiga belas tahun untuk wanita dan empat belas tahun untuk pria. Selama periode ini (kira-kira usia 11 tahun bagi wanita dan 12 tahun bagi pria) terjadi sejumlah perubahan yang signifikan, baik secara fisik maupun psikologis. Sejumlah ahli membagi masa anak-anak menjadi dua, yaitu masa anak-anak awal dan masa anak-anak akhir. Masa anak-anak awal berlangsung dari umur 2 tahun sampai 6 tahun, dan masa anak-anak akhir dari usia 6 tahun sampai saat anak matang secara seksual.
Masa kanak-kanak awal bagi para pendidik disebut sebagai usia prasekolah. Anak-anak di usia ini dianggap cukup matang baik secara fisik dan mental untuk menghadapi tugas-tugas pada saat mereka menghadapi pendidikan formal. Anak-anak yang mengikuti taman kanak-kanak dinamakan anak-anak prasekolah dan bukan anak-anak sekolah.

Ciri-ciri Awal Masa Kanak-kanak
Pada umumnya orang berpendapat bahwa masa kanak-kanak merupakan masa yang terpanjang dalam rentang kehidupan. Dengan demikian, awal masa kanak-kanak dimulai sesebagai penutupan masa bayi. Ketergantungan secara praktis sudah dilewati diganti dengan tumbuhnya kemandirian dan berakhir disekitar usia masuk sekolah dasar. Masuk kelas satu merupakan peristiwa penting bagi kehidupan setiap anak sehingga dapat mengakibatkan perubahan dalam sikap, nilai dan perilaku.
Salah satu ciri tertentu masa bayi merupakan ciri khas yang membedakannya dengan periode-periode lain dalam rentang kehidupan, demikian pula halnya dengan ciri tertentu dari periode awal masa kanak-kanak. Ciri ini tercermin dalam sebutan yang biasanya diberikan oleh para orang tua, pendidik, dan ahli psikologi.[1]
a)  Sebutan yang digunakan orang tua
Sebagian besar orang tua menganggap awal masa kanak-kanak sebagai usia yang mengundang masalah atau usia sulit.  Alasan mengapa masalah perilaku sering terjadi di awal masa kanak-kanak ialah, karena anak-anak muda sedang dalam proses pengembangan kepribadian yang unik dan menuntut kebebasan yang pada umumnya kurang berhasil. Orangtua juga menyebut masa ini sebagai usia mainan karena anak menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bermain dengan mainannya.
b)  Sebutan yang digunakan para pendidik
Para pendidik menyebut tahun-tahun awal masa kanak-kanak sebagai usia prasekolah untuk membedakannya dari saat di mana anak dianggap cukup tua, baik secara fisik dan mental, untuk menghadapi tugas-tugas pada saat mereka mengikuti pendidikan formal. Anak yang mengikuti taman kanak-kanak juga dinamakan anak-anak prasekolah dan bukan anak-anak sekolah. Tekanan dan harapan yang dikenakan kepada anak-anak prasekolah sangat berbeda dengan apa yang dialaminya pada saat memulai pendidikan formal kelas satu.[2]
c)  Sebutan yang digunakan para ahli psikologi
Para ahli psikologi menggunakan sejumlah sebutan yang berbeda untuk menguraikan ciri-ciri yang menonjol dari perkembangan psikologis anak pada masa ini, yaitu:
1.  Usia kelompok
yaitu masa dimana anak-anak mempelajari dasar-dasar perilaku social sebagai persiapan bagi kehidupan sosial yang lebih tinggi yang diperlukan untuk masuk kelas satu.
2.    Usia menjelajah
Bahwa anak-anak ingin mengetahui keadaan lingkungannya, bagaimana mekanismenya, bagaimana perasaannya dan bagaimana ia dapat menjadi bagian dari lingkungan.
3.    Usia bertanya
Salah satu cara yang umum dalam menjelajah lingkungan adalah dengan bertanya.

4.    Usia meniru

Yang paling menonjol dalam periode ini adalah meniru pembicaraan dan tindakan orang lain.

5.    Usia kreatif
Meskipun kecenderungan untuk meniru sangat kuat tetapi anak-anak lebih menunjukkan kreatifitasnya dalam bermain.

Perkembangan pada awal masa kanak-kanak
Perkembangan yang terjadi pada masa ini yaitu:
1.    Perkembangan Fisik
Selama masa kanak-kanak awal, pertumbuhan fisik berlangsung lambat dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan selama masa bayi. Pertumbuhan fisik yang lambat ini berlangsung sampai mulai munculnya tanda-tanda pubertas. perkembangan fisik dipengaruhi oleh faktor keturunan dan faktor lingkungan.
Selama masa anak-anak awal, tinggi rata-rata anak bertumbuh 2,5 inci dan berat bertambah antara 2,5 hingga 3,5 kg setiap tahunnya. Usia 3 tahun tinggi anak sekitar 38 inci dan beratnya sekitar 16,5 kg. Pada usia enam tahun tinggi anak rata-rata 46,8 inci. Pada periode ini, baik laki-laki maupun perempuan terlihat makin langsing, sementara batang tubuh mereka makin panjang.[3]
Perkembangan fisik yang sangat penting selama masa anak-anak awal adalah perkembangan otak dan sistem syaraf yang berkelanjutan. Meskipun otak terus bertumbuh pada masa awal anak-anak, namun pertumbuhannya tidak sepesat pada masa bayi. Pada saat bayi mencapai usia 2 tahun ukuran otaknya rata-rata 75% dari otak orang dewasa, dan pada usia 5 tahun ukuran otaknya telah mencapai sekitar 90% otak orang dewasa.
2.    Perkembangan Motorik
 Motorik adalah segala sesuatu yang ada hubungannya dengan gerakan-gerakan tubuh. Dalam perkembangan motorik, unsur-unsur yang menentukan ialah otot, saraf dan otak.[4]
*   Perkembangan Motorik Masa Anak-anak awal[5] adalah sebagai berikut:
Usia /Tahun
Motorik Kasar
Motorik Halus
2,5-3,5
Berjalan dengan baik, berlari lurus kedepan dan melompat
Meniru sebuah lingkaran, tulisan cakar ayam, dapat makan menggunakan sendok dan menyusun beberapa kotak
3,5-4,5
Berjalan dengan 80% langkah orang dewasa, berlari 1/3 kecepatan orang dewasa, melempar dan menangkap bola besar, tetapi lengan masih kaku
Mengancingkan baju, meniru bentuk sederhana, membuat gambar sederhana
4,5-5,5
Menyeimbangkan badan diatas satu kaki, berlari jauh tanpa jatuh, dapat berenang dalam air yang dangkal
Mengguting, menggambar sesuatu, meniru angka dan huruf sederhana, membuat susunan yang kompleks dengan kotak-kotak

3. Perkembangan Kognitif
Sesuai dengan teori kognitif Piaget, maka perkembangan kognitif pada masa awal anak-anak dinamakan  dengan tahap praoperasioanal, suatu tahap yang berlangsung dari usia 2 tahun sampai 7 tahun.[6] Piaget membagi perkembangan kognitif ke dalam dua bagian, yaitu:
a)    Umur 2-4 tahun, dirincikan oleh perkembangan pemikiran simbolis. Periode ini ditandai dengan berkembangnya representasional, atau symbolic function, yaitu kemampuan menggunakan sesuatu untuk mewakili sesuatu yang lain dengan menggunakan simbol-simbol (bahasa, gambar, tanda/isyarat, benda, gestur, atau peristiwa) untuk melambangkan suatu kegiatan, benda yang nyata atau peristiwa
b)   Umur 4-7 tahun, dirincikan oleh perkembangan intuitif. Perkembangan intuitif yaitu persepsi langsung akan dunia luar tanpa dinalar terlebih dahulu. Begitu seorang anak berhadapan dengan sesuatu hal, ia mendapatkan gagasan atau gamabaran dan langsung digunakan.

4.     Perkembangan Bahasa
Selama masa awal kanak-kanak, anak memiliki keinginan yang kuat untuk belajar berbicara. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal di bawah ini:
a. Belajar berbicara merupakan sarana pokok dalam sosialisasi
b. Belajar berbicara merupakan sarana untuk memperoleh kemandirian.

5. Perkembangan Emosi
Selama awal masa kanak-kanak emosi sangat kuat. Saat ini merupakan saat-saat ketidakseimbangan karena anak-anak “keluar dari fokus” dalam arti bahwa ia mudah terbawa ledakan-ledakan emosional sehingga sulit dibimbing dan diarahkan. Hal ini tampak mencolok pada anak-anak usia 2,5 sampai 3,5 dan 5,5 tahun sampai 6,5 tahun, meskipun pada umumnya hal ini berlaku pada hamper seluruh periode awal masa kanak-kanak.
*   Faktor-faktor yang mempengaruhi yaitu: intelegensi anak, jenis disiplin, posisi urutan, besarnya keluarga, status sosial ekonomi, status ras, berbahasa dua, penggolongan peran-seks.[8]
Emosi yang umum pada awal masa kanak-kanak adalah amarah, takut, cemburu, ingin tahu, iri hati, gembira, sedih, dan kasih sayang.

6. Perkembangan Bermain
Masa awal kanak-kanak sering disebut sebagai tahap mainan, karena dalam periode ini hampir dunia anak identik dengan bermain.
Burner mengatakan bahwa bermain dalam masa kanak-kanak adalah “kegiatan yang serius,” yang merupakan bagian penting dalam perkembangan tahun-tahun pertama masa kanak-kanak.[9]
*      Pola bermain awal masa kanak-kanak, sebagai berikut: [10]
1.)    Bermain dengan mainan
Pada permulaan masa ini, bermain dengan mainan-mainan merupakan bentuk yang dominan.
2.)    Dramatisasi
Permainan ini mirip dengan bermain peran, dengan cara meniru pengalaman-pengalaman hidup berdasarkan cerita-cerita yang dibacakan atau berdasarkan acara-acara film dan televisi yang mereka lihat.
3.)    Konstruksi
Anak-anak membuat bentuk-bentuk dengan balok-balok, pasir, lumpur, tanah liat, manik-manik, cat, pasta, gunting, krayon dan lain-lain. Sebagian besar konstruksi yang dibuat merupakan tiruan dari apa yang dilihatnya sehari-hari.
4.)    Permainan
Dalam tahun keempat anak mulai lebih menyukai permainan yang dimainkan bersama teman-teman sebaya daripada orang-orang dewasa. Permainan ini dapat terdiri dari beberapa pemain dan melibatkan beberapa peraturan yang menguji keterampilan.


5.)    Membaca
Anak-anak senang dibacakan dan melihat gambar-gambar dari buku. Yang sangat menarik adalah dongeng-dongeng, nyanyian anak-anak cerita-cerita tentang hewan dan kejadian sehari-hari.
6.)    Film, Radio, dan Trelevisi
Anak-anak senang film kartun, film tentang binatang dan film tentang anggota-anggota keluarga. Anak-anak juga senang mendengarkan radio, tetapi lebih senang melihat televisi.
7.)     Perkembangan Pengertian
Dengan meningkatnya kemampuan intelektual anak, maka pengertian anak tentang orang, benda dan situasi meningkat dengan pesat. Peningkatan pengertian ini timbul dalam arti-arti baru disosialisasikan dengan arti-arti yang dipelajari.
Anak-anak mulai memperhatikan hal-hal kecil yang tadinya tidak diperhatikan. Dengan demikian anak-anak tidak lagi mudah bingung kalau menghadapi benda-benda, situasi, atau orang-orang yang memiliki unsur-unsur yang sama. Konsepnya menjadi lebih khusus dan lebih berarti. [11]
8.)     Perkembangan Moral
Perkembangan moral pada awal masa kanak-kanak masih dalam tingkat yang rendah. Hal ini disebabkan karena perkembangan intelektual anak belum mencapai titik di mana ia dapat mempelajari dan menerapkan prinsip-prinsip abstrak tentang benar dan salah. Ia juga tidak mempunyai dorongan untuk mengikuti peraturan-peraturan karena tidak mengerti manfaatnya sebagai anggota kelompok sosial.
Awal masa kanak-kanak oleh piaget disebut “moralitas melalui paksaan”, dalam tahap perkembangan moral ini, anak-anak secara otomatis mengikuti peraturan-peraturan tanpa berpikir atau menilai, dan ia menganggap orang-orang dewasa yang berkuasa.
9.)     Perkembagan Kepribadian
Lingkungan keluarga merupakan dunia sosial bagi anak-anak, maka bagaimana perasaan mereka kepada anak-anak dan bagaimana memperlakukan mereka merupakan faktor terpenting dalam pembentukan konsep diri, yaitu inti pola kepribadian. Dalam perkembangan selanjutnya, sikap dan cara teman-teman sebaya memperlakukannya mulai membawa pengaruh dalam konsep diri.[12]
10.)     Perkembangan Kesadaran Beragama
Konsep mengenai Tuhan banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi, sehingga dalam menanggapi agama anak masih menggunakan konsep fantasi yang diliputi oleh dongeng- dongeng yang kurang masuk akal. Cerita akan Nabi akan dikhayalkan seperti yang ada dalam dongeng- dongeng.
Pada usia ini, perhatian anak lebih tertuju pada para pemuka agama dari pada isi ajarannya, dan cerita akan lebih menarik jika berhubungan dengan masa anak-anak karena sesuai dengan jiwa kekanak-kanakannya. Dengan caranya sendiri anak mengungkapkan pandangan teologisnya, pernyataan dan ungkapannya tentang Tuhan lebih bernada individual, emosional, dan spontan tapi penuh arti teologis atau masuk dalam tingkat fairy tale stage.
11.)  Perkembangan Sosial
Perkembangan perilaku sosial anak ditandai dengan adanya minat terhadap aktivitas teman-teman dan meningkatnya keinginan yang kuat untuk diterima sebagai anggota suatu kelompok, dan tidak puas bila tidak bersama teman-temannya. Anak tidak lagi puas bermain sendiri dirumah atau dengan saudara-saudara kandung atau melakukan kegiatan-kegiatan dengan anggota-anggota keluarga. Anak ingin bersama teman-temannya dan akan merasa kesepian serta tidak puas bila tidak bersama teman-temannya.
Masa TK merupakan masa kanak-kanak awal. Pola perilaku sosial yang terlihat pada masa kanak-kanak awal, seperti yang diungkap oleh Hurlock (1998:252) yaitu: kerjasama, persaingan, kemurahan hati, hasrat akan penerimaan sosial, simpati, empat, ketergantungan, sikap ramah, sikap tidak mementingkan diri sendiri, meniru, perilaku kelekatan.

Kegunaan Sosiologi


2.Kegunaan Studi Sosiologi  Dalam Kehidupan sosial
Studi sosiologi bermanfaat dalam mengungkapkan memahami, dan memecahkan  berbagai gejala atau krisis dalam kehidupan sosial yang akhirnya bermanfaat sebagai suatu alternative memecahkan problema kehidupan social. gejala social yang normal adalah gejala social yang wajar seperti norma norma, kelompok kelompok social, lapisan lapisan social, lembaga lembaga social, proses sosial,  perubahan perubahan sosial dan kebudayaan serta perwujudannya. Gejala abnormal atau gejala gejala patologis, disebabkan karena unsur unsur tertentu dalam masyarakat tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, sehingga menyebabkan kekecewaan bahkan  penderitaan bagi warga masyarakat.
Problema sosial ini berbeda dengan problema lainnya di dalam masyarakat, problema sosial ini erat hubungannya dengan nilai nilai sosial dan lembaga lembaga kemasyarakatan yang bersifat sosial. Untuk mengklasifikasi suatu persoalan sosial dipergunakan penilaian sebagai  pengukurnya. Apabila masyarakat menganggap sakit jiwa, bunuh diri, perceraian,  penyalahgunaan obat obatan bius, sebagai problema sosial, maka masyarakat tersebut tidak semata mata menunjuk pada tata kelakuan yang menyimpang, akan tetapi sekaligus  juga mencerminkan ukuran-ukuran umum mengenai segi moral.
§  John L.Gillin dan John Philip (1954:740) menyebutkan bahwa problema sosial adalah sesuatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur dalam kebudayaan atau masyarakat.
§  Samuel Koenig (1957) membedakannya sebagai demikian,  problema masyarakat adalah yang menyangkut analisis tentang macam-macam gejala kehidupan masyarakat. sedangkan problema sosial adalah masalah yang menyangkut penelitian tentang gejala-gejala ubnormal yang terjadi didalam masyarakat dengan maksud memperbaikinya.
§  John L.Gillin dan John Philip (1954: 739) mengatakan bahwa problema sosial bukan merupakan bagian dari sosiologi, karena sebenarnya problema-problema sosial merupakan hasil-hasil dari proses perkembangan masyarakat.
§   Soejono Soekanto (1984: 11) menyebutkan bahwa problema sosial merupakan bagian dari sosiologi, karena di Amerika serikat ada kecenderungan yang besar untuk memilih sosiologi sebagai sarana ilmiah untuk memperbaiki masyarakat, ini terjadi di era 1960  –  an.
Dasar pengklasifikasian problema-problema sosial yaitu :
·         Faktor ekonomis
·         Faktor Biologis
·         Faktor Bio-psikologis
·         Faktor kebudayaan
Arti luas pengklasifikasian problema-problema sosial dapat berupa, kepincangan-kepincangan dalam warisan fisik, warisan biologis, warisan sosial dan kebijaksanaan sosial.
Contoh gambaran beberapa problema sosial :
·         Peperangan
·         Perpecahan dalam keluarga
·         Masalah generasi muda
·         Kemiskinan
·         Tindakan kejahatan
Cara sosiologi memecahkan problema-problema sosial dilakukan dengan menggunakan metode-metode preventif dan represif. Pada metode preventif usaha yang dilakukan lebih jelas, oleh karena didasarkan pada penelitian yang mendalam terhadap sebab-sebab terjadinya problema-problema sosial. Sedangkan pada metode represif  usaha yang dilakukan terlebih dahulu setelah suatu gejala dapat dipastikan sebagai  problema sosial, setelah itu baru diambil langkah-langkah tindakan untuk mengatasinya.

2.1  Kegunaan Studi Sosiologi  Dalam Penelitian dan Ilmu Pengetahuan
Soedjono Dirdjosisworo(1982: 73) sosiologi akan bermanfaat sebagai daya dorong dan daya tarik terhadap kemajuan berbagai disiplin baik dari segi penelitian ilmiyah, maupun ilmu pengetahuan. Oleh karena itu dapat disebutkan bahwa sosiologi ini memiliki nilai guna untuk penelitian dan ilmu pengetahuan. Sebagai contoh perihal hasil penelitian komunikasi massa yang berhubungan erat dengan studi sosiologi yaitu:
·         Cenderung memperkuat sikap dan pendapat-pendapat yang telah ada.
·         Efektivitas massa tergantung pada kedudukan dan perana komunikator
·         Isi komunikasi massa ditafsirkan menurut nilai-nilai dan norma-norma
·         Komunikasi massa dapat dipergunakan sebagai sarana untuk sikap-sikap mengenai bidang-bidang kehidupan yang netral.
Metode-metode penelitian yang dimiliki sosiologi dapat diterapkan pada hampir semua aspek kehidupan manusia, terutama aspek yang berhubungan dengan interaksi antarindividu dalam kelompok masyarakat. Informasi sosiologi yang disajikan selalu diperoleh melalui metode-metode ilmiah yang sudah teruji dan tidak diragukan manfaatnya.
 Sosiologi secara kategoris ternyata tidak lebih rendah daripada ilmu-ilmu lainnya. Oleh karena itu, para ahli sosiologi banyak yang dilibatkan dalam bidang telah ilmiah, khususnya sebagai pencari data. Para ahli sosiologi banyak yang dilibatkan untuk duduk dalam berbagai jabatan, seperti bidang personalia, hubungan kerja atau hubungan perburuhan dan pencemaran lingkungan

2.2     Kegunaan Studi Sosiologi dalam Pembangunan
Pembangunan atau social development adalah suatu proses perubahan yang direncanakan secara matang untuk merubah struktur, sistem, dan organisasi sosial. Menurut Soerjono Dirdjosisworo (1982: 74) tidak disangsikan lagi bahwa setiap pembangunan membutuhkan sosiologi sebagai sarana penyusunan program yang lebih mantap. Proses pembangunan perlu dikaitkan dengan pandangan yang optimis untuk mencapai taraf hidup yang lebih baik. Untuk mencapai taraf hidup lebih baik, diperlukan cara struktural dan spiritual sebagai berikut:
·         Struktural  (perencanaan, pembentukan, dan evaluasi lembaga masyarakat).
yaitu perencanaan, pembentukan dan evaluasi lembaga kemasyarakatan, prosedur serta pembangunan fisik
·         Spiritual (pembentukan watak, cara berfikir, ilmu pengetahuan dan teknologi) yaitu pembentukan watak dan pendidikan, khususnya cara  berpikir terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi.
Prioritas utama dalam pembangunan adalah perbaikan ekonomi secara menyeluruh dan merata, baik pada lapisan elit maupun lapisan bawah. Secara sosiologis, hasil pembangunan hendaknya dapat dinikmati seluruh masyarakat, terutama masyarakat miskin. Pembangunan semacam ini, biasanya terwujud pada kegiatan untuk melengkapi kebutuhan materiil, seperti pakaian, pangan, kesehatan, pendidikan dan keamanan. Pelaksanaan pembangunan ditujukan pada  pemberantasan hal-hal yang berkaitan dengan kemiskinan yang umumnya melanda negara-negara yang sedang berkembang
Kegunaan sosiologi dalam pembangunan sudah jelas, yaitu memberi peran dalam mengidentifisi hal-hal yang berhubungan dengan kepentingan pembangunan itu sendiri seperti dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembangunan.

2.4 Kegunaan Sosiologi Dalam Perencanaan Sosial dan Pemecahan Masalah Sosial
Perencanaan sosial adalah suatu kegiatan untuk mempersiapkan masa depan secara ilmiah. Maksudnya untuk mengatasi kemungkinan timbulnya masalah. Perencanaan sosial lebih bersifat preventif karena kegiatannya memberi  pengarahan dan bimbingan sosial mengenai cara-cara hidup masyarakat yang  baik. Menurut Ogburn dan Nimkoff, suatu perencanaan sosial yang baik dan efektif adalah sebagai berikut:
1.      Adanya unsur modern dalam masyarakat yang mencakup suatu sistem ekonomi yang telah menggunakan uang, urbanisasi yang teratur, inteligensia di bidang teknik dan ilmu pengetahuan, dan sistem administrasi yang baik.
2.      Adanya sistem pengumpulan keterangan dan analisis yang baik. 3.
3.      Terdapatnya sikap publik yang baik terhadap usaha-usaha perencanaan sosial tersebut.
4.      Adanya pemimpin ekonomi dan politik yang progresif.
v  Kegunaan Sosiologi dalam Perencanaan Sosial antara lain:
1)      Sosiologi mengkaji perkembangan kebudayaan masyarakat dari taraf tradisional sampai pada taraf modern. Dengan demikian, dalam memasyarakatkan perencanaan sosial akan relatif mudah dilaksanakan.
2)      Sosiologi mengkaji hubungan manusia dengan alam sekitarnya, hubungan antargolongan dalam masyarakat, dan mempelajari proses perubahan dalam masyarakat. Oleh karena itu, cara kerja sosiologi mengenai rancangan terhadap masa depan relatif lebih dapat dipercaya.
3)      Sosiologi merupakan disiplin ilmu yang objektif sehingga pelaksanaan  perencanaan sosial diharapkan lebih sedikit penyimpangannya.
4)      Perencanaan sosial secara sosiologi merupakan alat untuk mengetahui  perkembangan kehidupan masyarakat. Dengan demikian, perencanaan tersebut bermanfaat dalam menghimpun kekuatan.
v  Kegunaan Sosiologi dalam Pemecahan Masalah Sosial
Masalah sosial adalah masalah yang ditimbulkan oleh masyarakat itu sendiri. Pernyataan itu dikatakan Roucek dan Warren. Dengan demikian, masalah sosial adalah masalah yang melibatkan sejumlah besar manusia. Masalah yang tergolong masalah sosial murni adalah masalah yang berhubungan dengan terjadinya benturan antarinstitusi, rendahnya pengawasan sosial atau kegagalan menggunakan kaidah-kaidah teknologi yang tepat.
Adanya gejala masalah sosial, erat hubungannya dengan kurang terjaminnya kehidupannya ekonomi, kurang baiknya kesehatan masyarakat, merosotnya kewibawaan pemimpin dan adanya berbagai konflik dalam masyarakat. Disebut sebagai masalah sosial karena gejala dan peristiwa tersebut tidak dipahami oleh masyarakat serta tidak dapat diselesaikan masyarakat karena sebagain besar masyarakat tidak dapat mencapai kepuasan, akhirnya masyarakat menjadi frustasi. Ada dua metode untuk menanggulangi masalah sosial, yaitu:
1)      Metode preventif, dilakukan dengan mengadakan penilaian yang mendalam terhadap gejala-gejala sosial.
2)       Metode represif adalah proses penanggulangan secara langsung terhadap masalah sosial yang sedang tumbuh dan dirasakan masyarakat.

 2.5. Peran Sosiologi dalam Kehidupan Sosial
1.      Peran sebagai seorang ilmuwan( Ahli Riset) Yaitu mencari dan mengorganisasi ilmu pengetahuan tentang kehidupan sosial. Seperti semua ilmuwan lainnya, para sosiolog perhatian pada  pengumpulan dan penggunaan data.
 Sosiolog bekerja sama dengan menggunakan  berbagai cara dalam mengembangkan ilmu sosiologi. Misalnya, sosiolog memimpin riset ilmiah mencari data tentang kehidupan sosial masyarakat. Kemudian, data yang diperoleh diolah menjadi suatu karya ilmiah yang berguna bagi pengambil keputusan. Dengan demikian, seorang sosiolog harus mampu menjernihkan berbagai anggapan keliru yang berkembang dalam masyarakat.
Dari hasil penelitiannya, sosiolog bisa menghadirkan kebenaran-kebenaran. Selain itu, dapat juga meminimalisasi dampak negatif yang mungkin ditimbulkan oleh kekeliruan dalam suatu masyarakat. Oleh sebab itu, seorang sosiolog bisa menghadirkan ramalan sosial berdasarkan pola-pola atau kecenderungan serta perubahan-perubahan yang paling mungkin terjadi.

2.      Peran sebagai konsultan kebijaksanaan sosial Yaitu memberikan konsul dalam bentuk kemampuan memperkirakan atau meramalkan tentang pengaruh kebijaksanaan sosial yang dirancang dan dijalankan oleh pemerintah terhadap masyarakatnya.
Berdasarkan ilmu, kajian-kajian, serta riset yang dilakukannya, sosiolog dapat memberikan masukan terhadap kebijakan untuk masyarakat yang akan diputuskan oleh para pengambil kebijakan.
Sosiolog membantu menganalisis serta memperkirakan pengaruh yang akan terjadi jika suatu kebijakan diambil dan diterapkan oleh pemerintah pada suatu masyarakat tertentu.Sosiolog juga dapat menganalisis pembangunan seperti apa yang cocok bagi suatu masyarakat. Hal ini bertujuan agar kebijakan yang diambil oleh pemerintah memenuhi suatu harapan serta menghasilkan pengaruh yang diinginkan

3.      Peran sebagai teknisi Yaitu peran sosiolog terlibat dalam progam pelaksanaan dan perencanaan  program kegiatan masyarakat, hubungan antar karyawan,dan hubungan antar kelompok dalam suatu organisasi.
Beberapa sosiolog terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan masyarakat. Mereka member saran-saran, baik dalam penyelesaian berbagai masalah hubungan masyarakat, masalah moral, maupun hubungan antar kelompok dalam suatu lembaga masyarakat. Dalam kedudukan seperti ini, sosiolog bekerja sebagai ilmuwan terapan (applied scientist). Mereka dituntut untuk menggunakan  pengetahuan ilmiahnya dalam mencari nilai-nilai tertentu, seperti efisiensi kerja atau efektivitas suatu program pembangunan, ataupun suatu kegiatan masyarakat
4.      Peran sebagai pendidik Yaitu melakukan kegiatan mengajar dan ini adalah karir utama bagi sosiolog, dalam usahanya terus belajar mengembangkan teori dan aplikasi teori dalam  proses belajar mengajar.
Guru atau pendidik mempunyai tugas mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didiknya. Namun, tugas guru tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan, khususnya tugas guru dalam mengajarkan ilmu-ilmu sosiologi. Stereotip yang muncul dari pengajaran sosiologi adalah terlalu bertele-tele, menjenuhkan, dan teorinya membingungkan. Stereotip negatif tersebut dapat membuat minat dan motivasi belajar peserta didik merosot.
Oleh sebab itu, sosiolog yang berperan sebagai seorang guru sosiologi hendaknya bertugas menjelaskan dan meluruskan stereotip tersebut, di samping  bisa terus mengembangkan dan menularkan ilmu pada siswanya dengan baik. Berkaitan dengan tugasnya sebagai guru atau pendidik, seorang sosiolog dalam menyajikan fakta harus bersikap netral dan objektif.
Contohnya, dalam menyajikan masalah kemiskinan, seorang sosiolog tidak boleh menciptakan anggapan sebagai pendukung suatu proyek tertentu atau mengubahnya sehingga terkesan reformis dan konservatif. Sosiolog dapat menyajikan contoh-contoh konkret tentang bagaimana keterlibatan mereka dalam  pemecahan masalah-masalah sosial serta menunjukkan apa yang telah mereka  pelajari dari pengalaman-pengalaman di lapangan.
2.6 Beberapa Manfaat Sosiologi
 1. Memahami keragaman budaya masyarakat
Salah satu unsur dalam masyarakat yang menjadi objek kajian sosiologi adalah budaya. Setiap masyarakat memiliki budayanya masing-masing. Budaya masyarakat ada yang tradisional dan ada yang modern. Sosiologi mempelajari budaya masyarakat yang sangat kompleks. Kompleksitas menyiratkan adanya keragaman yang rumit. Dengan mempelajari sosiologi, pembelajar tentunya juga mempelajari aneka ragam budaya masyarakat. Pengetahuan akan keragaman ini bisa digunakan untuk menumbuhkan sikap toleran terhadap budaya lain di masyarakat.
2.  Menumbuhkan jiwa sosial yang tinggi
Mempelajari sosiologi adalah mempelajari kehidupan sosial orang-orang yang berbeda dengan kita. Perbedaan tersebut bisa meliputi segala aspek. Diferensiasi sosial adalah kenyataan yang ada di masyarakat. Perbedaan perilaku dan tindakan sosial sering dapat kita pahami dengan cara merefleksikan diri kita ketika berada di posisi orang lain. Upaya refleksi ini bisa meningkatkan rasa empati yang tinggi. Tak jarang ketika belajar sosiologi, kita didorong untuk ”berjalan memakai sepatu orang lain”, artinya merasakan apa yang orang lain rasakan.
3. Meningkatkan kemampuan berpikir kritis
Sosiologi mengajarkan anak didiknya untuk tidak menerima kenyataan begitu saja tanpa refleksi dan peneyelidikan lebih lanjut. Realitas sosial yang ada di sekitar kita tidak terjadi begitu saja, melainkan hasil interaksi kehidupan sosial yang diciptakan manusia. Sebagai contoh, realitas sosial di masyarakat mengatakan bahwa acara TV alay digemari masyarakat Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan ratingnya yang tinggi. Pembelajar sosiologi tidak akan menerima argumen itu begitu saja. Sosiologi mengajarkan kita untuk melakukan refleksi dengan bertanya, misalnya, siapa saja pihak yang diuntungkan dengan argumentasi tersebut, apakah masyarakat kita menonton acara alay karena pilihan mereka atau karena tidak ada acara lain, apakah komisi penyiaran tidak punya wewenang menentukan jenis acara, apakah acara alay memiliki nilai positif, dan sebagainya.
4. Mendorong terciptanya integrasi sosial
Manfaat sosiologi sebagai pendorong terwujudnya integrasi sosial bisa dipahami dalam konteks kebangsaan yang multikultur dan multietnis. Terkait dengan apa yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa sosiologi mengajarkan keragaman budaya pada pembelajarnya, pembelajar sosiologi diajarkan pula untuk berintegrasi secara sosial ditengah keragaman budaya. Pengetahuan akan keragaman bisa menjadi fondasi spirit toleransi antar budaya dan etnis. Saling kepahaman antar masyarakat dengan latar belakang budaya yang berbeda merupakan modal besar untuk menciptakan integrasi atau kesatuan sosial. Integrasi sosial merupakan bentuk kehidupan sosial yang solid dan harmonis.
Manfaat sosiologi yang telah diulas di atas tentu hanya segelintir saja dari banyak manfaat lain yang bisa dirasakan. Pembelajar sosiologi atau pembelajar ilmu sosial pada umumnya akan menerima manfaat secara langsung bila menekuni apa yang dipelajarinya. Manfaat tersebut bisa dirasakan pada level personal dan bisa pula sampai pada level masyarakat ketika ilmu yang sudah dipelajari diamalkan. Pengamalan ilmu pengetahuan tentu tidak boleh hanya menguntungkan diri pribadi, melainkan harus bisa dirasakan oleh masyarakat.
 

Sajak Jiwa

About