Masa kanak-kanak dimulai setelah melewati masa bayi yang
penuh ketergantungan, yakni kira-kira usia dua tahun sampai saat anak matang
secara seksual, kira-kira tiga belas tahun untuk wanita dan empat belas tahun
untuk pria. Selama periode ini (kira-kira usia 11 tahun bagi wanita dan 12
tahun bagi pria) terjadi sejumlah perubahan yang signifikan, baik secara fisik
maupun psikologis. Sejumlah ahli membagi masa anak-anak menjadi dua, yaitu masa
anak-anak awal dan masa anak-anak akhir. Masa anak-anak awal berlangsung dari
umur 2 tahun sampai 6 tahun, dan masa anak-anak akhir dari usia 6 tahun sampai
saat anak matang secara seksual.
Masa kanak-kanak awal bagi para pendidik disebut sebagai
usia prasekolah. Anak-anak di usia ini dianggap cukup matang baik secara fisik
dan mental untuk menghadapi tugas-tugas pada saat mereka menghadapi pendidikan
formal. Anak-anak yang mengikuti taman kanak-kanak dinamakan anak-anak
prasekolah dan bukan anak-anak sekolah.
Pada
umumnya orang berpendapat bahwa masa kanak-kanak merupakan masa yang terpanjang
dalam rentang kehidupan. Dengan demikian, awal masa kanak-kanak dimulai
sesebagai penutupan masa bayi. Ketergantungan secara praktis sudah dilewati
diganti dengan tumbuhnya kemandirian dan berakhir disekitar usia masuk sekolah
dasar. Masuk kelas satu merupakan peristiwa penting bagi kehidupan setiap anak
sehingga dapat mengakibatkan perubahan dalam sikap, nilai dan perilaku.
Salah
satu ciri tertentu masa bayi merupakan ciri khas yang membedakannya dengan
periode-periode lain dalam rentang kehidupan, demikian pula halnya dengan ciri
tertentu dari periode awal masa kanak-kanak. Ciri ini tercermin dalam sebutan
yang biasanya diberikan oleh para orang tua, pendidik, dan ahli psikologi.[1]
a) Sebutan yang digunakan orang tua
Sebagian
besar orang tua menganggap awal masa kanak-kanak sebagai usia yang mengundang
masalah atau usia sulit. Alasan mengapa masalah perilaku sering terjadi
di awal masa kanak-kanak ialah, karena anak-anak muda sedang dalam proses
pengembangan kepribadian yang unik dan menuntut kebebasan yang pada umumnya
kurang berhasil. Orangtua juga menyebut masa ini sebagai usia mainan karena
anak menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bermain dengan mainannya.
b) Sebutan yang digunakan para pendidik
Para
pendidik menyebut tahun-tahun awal masa kanak-kanak sebagai usia prasekolah
untuk membedakannya dari saat di mana anak dianggap cukup tua, baik secara
fisik dan mental, untuk menghadapi tugas-tugas pada saat mereka mengikuti
pendidikan formal. Anak yang mengikuti taman kanak-kanak juga dinamakan
anak-anak prasekolah dan bukan anak-anak sekolah. Tekanan dan harapan yang
dikenakan kepada anak-anak prasekolah sangat berbeda dengan apa yang dialaminya
pada saat memulai pendidikan formal kelas satu.[2]
c) Sebutan yang digunakan para ahli psikologi
Para ahli psikologi
menggunakan sejumlah sebutan yang berbeda untuk menguraikan ciri-ciri yang
menonjol dari perkembangan psikologis anak pada masa ini, yaitu:
1. Usia kelompok
yaitu
masa dimana anak-anak mempelajari dasar-dasar perilaku social sebagai persiapan
bagi kehidupan sosial yang lebih tinggi yang diperlukan untuk masuk kelas satu.
2.
Usia
menjelajah
Bahwa
anak-anak ingin mengetahui keadaan lingkungannya, bagaimana mekanismenya,
bagaimana perasaannya dan bagaimana ia dapat menjadi bagian dari lingkungan.
3.
Usia
bertanya
Salah satu cara yang umum dalam menjelajah
lingkungan adalah dengan bertanya.
4.
Usia
meniru
Yang paling menonjol dalam periode ini adalah
meniru pembicaraan dan tindakan orang lain.
5.
Usia
kreatif
Meskipun kecenderungan untuk meniru sangat
kuat tetapi anak-anak lebih menunjukkan kreatifitasnya dalam bermain.
Perkembangan pada awal masa kanak-kanak
Perkembangan
yang terjadi pada masa ini yaitu:
1. Perkembangan
Fisik
Selama
masa kanak-kanak awal, pertumbuhan fisik berlangsung lambat dibandingkan dengan
tingkat pertumbuhan selama masa bayi. Pertumbuhan fisik yang lambat ini
berlangsung sampai mulai munculnya tanda-tanda pubertas. perkembangan fisik dipengaruhi
oleh faktor keturunan dan faktor lingkungan.
Selama
masa anak-anak awal, tinggi rata-rata anak bertumbuh 2,5 inci dan berat
bertambah antara 2,5 hingga 3,5 kg setiap tahunnya. Usia 3 tahun tinggi anak
sekitar 38 inci dan beratnya sekitar 16,5 kg. Pada usia enam tahun tinggi anak
rata-rata 46,8 inci. Pada periode ini, baik laki-laki maupun perempuan terlihat
makin langsing, sementara batang tubuh mereka makin panjang.[3]
Perkembangan
fisik yang sangat penting selama masa anak-anak awal adalah perkembangan otak
dan sistem syaraf yang berkelanjutan. Meskipun otak terus bertumbuh pada masa
awal anak-anak, namun pertumbuhannya tidak sepesat pada masa bayi. Pada saat
bayi mencapai usia 2 tahun ukuran otaknya rata-rata 75% dari otak orang dewasa,
dan pada usia 5 tahun ukuran otaknya telah mencapai sekitar 90% otak orang
dewasa.
2.
Perkembangan
Motorik
Motorik adalah segala sesuatu yang
ada hubungannya dengan gerakan-gerakan tubuh. Dalam perkembangan motorik,
unsur-unsur yang menentukan ialah otot, saraf dan otak.[4]
Usia
/Tahun
|
Motorik
Kasar
|
Motorik
Halus
|
2,5-3,5
|
Berjalan
dengan baik, berlari lurus kedepan dan melompat
|
Meniru
sebuah lingkaran, tulisan cakar ayam, dapat makan menggunakan sendok dan
menyusun beberapa kotak
|
3,5-4,5
|
Berjalan
dengan 80% langkah orang dewasa, berlari 1/3 kecepatan orang dewasa, melempar
dan menangkap bola besar, tetapi lengan masih kaku
|
Mengancingkan
baju, meniru bentuk sederhana, membuat gambar sederhana
|
4,5-5,5
|
Menyeimbangkan
badan diatas satu kaki, berlari jauh tanpa jatuh, dapat berenang dalam air
yang dangkal
|
Mengguting,
menggambar sesuatu, meniru angka dan huruf sederhana, membuat susunan yang
kompleks dengan kotak-kotak
|
3. Perkembangan Kognitif
Sesuai dengan teori kognitif Piaget,
maka perkembangan kognitif pada masa awal anak-anak dinamakan dengan
tahap praoperasioanal, suatu tahap yang berlangsung dari usia 2 tahun sampai 7
tahun.[6] Piaget membagi perkembangan
kognitif ke dalam dua bagian, yaitu:
a) Umur 2-4 tahun, dirincikan oleh perkembangan
pemikiran simbolis. Periode ini ditandai dengan berkembangnya representasional,
atau symbolic function, yaitu kemampuan menggunakan sesuatu untuk
mewakili sesuatu yang lain dengan menggunakan simbol-simbol (bahasa, gambar,
tanda/isyarat, benda, gestur, atau peristiwa) untuk melambangkan suatu
kegiatan, benda yang nyata atau peristiwa
b) Umur 4-7 tahun, dirincikan oleh perkembangan
intuitif. Perkembangan intuitif yaitu persepsi langsung akan dunia luar tanpa
dinalar terlebih dahulu. Begitu seorang anak berhadapan dengan sesuatu hal, ia
mendapatkan gagasan atau gamabaran dan langsung digunakan.
4. Perkembangan Bahasa
Selama masa awal kanak-kanak, anak memiliki
keinginan yang kuat untuk belajar berbicara. Hal ini disebabkan oleh beberapa
hal di bawah ini:
a. Belajar berbicara
merupakan sarana pokok dalam sosialisasi
b. Belajar
berbicara merupakan sarana untuk memperoleh kemandirian.
5. Perkembangan Emosi
Selama awal masa
kanak-kanak emosi sangat kuat. Saat ini merupakan saat-saat ketidakseimbangan
karena anak-anak “keluar dari fokus” dalam arti bahwa ia mudah terbawa
ledakan-ledakan emosional sehingga sulit dibimbing dan diarahkan. Hal ini
tampak mencolok pada anak-anak usia 2,5 sampai 3,5 dan 5,5 tahun sampai 6,5
tahun, meskipun pada umumnya hal ini berlaku pada hamper seluruh periode awal
masa kanak-kanak.
Emosi yang umum pada awal
masa kanak-kanak adalah amarah, takut, cemburu, ingin tahu, iri hati, gembira,
sedih, dan kasih sayang.
6. Perkembangan Bermain
Masa awal kanak-kanak sering disebut sebagai
tahap mainan, karena dalam periode ini hampir dunia anak identik dengan
bermain.
Burner mengatakan bahwa bermain dalam masa
kanak-kanak adalah “kegiatan yang serius,” yang merupakan bagian penting dalam
perkembangan tahun-tahun pertama masa kanak-kanak.[9]
1.) Bermain dengan mainan
Pada permulaan masa ini,
bermain dengan mainan-mainan merupakan bentuk yang dominan.
2.) Dramatisasi
Permainan ini mirip dengan bermain
peran, dengan cara meniru pengalaman-pengalaman hidup berdasarkan cerita-cerita
yang dibacakan atau berdasarkan acara-acara film dan televisi yang mereka
lihat.
3.)
Konstruksi
Anak-anak membuat bentuk-bentuk dengan
balok-balok, pasir, lumpur, tanah liat, manik-manik, cat, pasta, gunting,
krayon dan lain-lain. Sebagian besar konstruksi yang dibuat merupakan tiruan dari
apa yang dilihatnya sehari-hari.
4.) Permainan
Dalam tahun keempat anak
mulai lebih menyukai permainan yang dimainkan bersama teman-teman sebaya
daripada orang-orang dewasa. Permainan ini dapat terdiri dari beberapa pemain
dan melibatkan beberapa peraturan yang menguji keterampilan.
5.) Membaca
Anak-anak senang dibacakan
dan melihat gambar-gambar dari buku. Yang sangat menarik adalah
dongeng-dongeng, nyanyian anak-anak cerita-cerita tentang hewan dan kejadian
sehari-hari.
6.) Film, Radio, dan Trelevisi
Anak-anak senang film
kartun, film tentang binatang dan film tentang anggota-anggota keluarga.
Anak-anak juga senang mendengarkan radio, tetapi lebih senang melihat televisi.
7.) Perkembangan Pengertian
Dengan meningkatnya kemampuan intelektual
anak, maka pengertian anak tentang orang, benda dan situasi meningkat dengan
pesat. Peningkatan pengertian ini timbul dalam arti-arti baru disosialisasikan
dengan arti-arti yang dipelajari.
Anak-anak mulai memperhatikan hal-hal kecil
yang tadinya tidak diperhatikan. Dengan demikian anak-anak tidak lagi mudah
bingung kalau menghadapi benda-benda, situasi, atau orang-orang yang memiliki
unsur-unsur yang sama. Konsepnya menjadi lebih khusus dan lebih berarti. [11]
8.) Perkembangan Moral
Perkembangan moral pada awal masa kanak-kanak
masih dalam tingkat yang rendah. Hal ini disebabkan karena perkembangan
intelektual anak belum mencapai titik di mana ia dapat mempelajari dan
menerapkan prinsip-prinsip abstrak tentang benar dan salah. Ia juga tidak
mempunyai dorongan untuk mengikuti peraturan-peraturan karena tidak mengerti
manfaatnya sebagai anggota kelompok sosial.
Awal masa kanak-kanak oleh piaget disebut
“moralitas melalui paksaan”, dalam tahap perkembangan moral ini, anak-anak
secara otomatis mengikuti peraturan-peraturan tanpa berpikir atau menilai, dan
ia menganggap orang-orang dewasa yang berkuasa.
9.) Perkembagan Kepribadian
Lingkungan keluarga merupakan dunia sosial
bagi anak-anak, maka bagaimana perasaan mereka kepada anak-anak dan bagaimana
memperlakukan mereka merupakan faktor terpenting dalam pembentukan konsep diri,
yaitu inti pola kepribadian. Dalam perkembangan selanjutnya, sikap dan cara teman-teman
sebaya memperlakukannya mulai membawa pengaruh dalam konsep diri.[12]
10.)
Perkembangan
Kesadaran Beragama
Konsep mengenai Tuhan banyak dipengaruhi oleh
fantasi dan emosi, sehingga dalam menanggapi agama anak masih menggunakan
konsep fantasi yang diliputi oleh dongeng- dongeng yang kurang masuk akal.
Cerita akan Nabi akan dikhayalkan seperti yang ada dalam dongeng- dongeng.
Pada usia ini, perhatian anak lebih tertuju pada para pemuka agama dari pada isi ajarannya, dan cerita akan lebih menarik jika berhubungan dengan masa anak-anak karena sesuai dengan jiwa kekanak-kanakannya. Dengan caranya sendiri anak mengungkapkan pandangan teologisnya, pernyataan dan ungkapannya tentang Tuhan lebih bernada individual, emosional, dan spontan tapi penuh arti teologis atau masuk dalam tingkat fairy tale stage.
Pada usia ini, perhatian anak lebih tertuju pada para pemuka agama dari pada isi ajarannya, dan cerita akan lebih menarik jika berhubungan dengan masa anak-anak karena sesuai dengan jiwa kekanak-kanakannya. Dengan caranya sendiri anak mengungkapkan pandangan teologisnya, pernyataan dan ungkapannya tentang Tuhan lebih bernada individual, emosional, dan spontan tapi penuh arti teologis atau masuk dalam tingkat fairy tale stage.
11.) Perkembangan Sosial
Perkembangan perilaku
sosial anak ditandai dengan adanya minat terhadap aktivitas teman-teman dan
meningkatnya keinginan yang kuat untuk diterima sebagai anggota suatu kelompok,
dan tidak puas bila tidak bersama teman-temannya. Anak tidak lagi puas bermain
sendiri dirumah atau dengan saudara-saudara kandung atau melakukan
kegiatan-kegiatan dengan anggota-anggota keluarga. Anak ingin bersama
teman-temannya dan akan merasa kesepian serta tidak puas bila tidak bersama
teman-temannya.
Masa TK merupakan masa kanak-kanak awal. Pola
perilaku sosial yang terlihat pada masa kanak-kanak awal, seperti yang diungkap
oleh Hurlock (1998:252) yaitu: kerjasama, persaingan, kemurahan hati, hasrat
akan penerimaan sosial,
simpati, empat, ketergantungan, sikap ramah, sikap tidak mementingkan diri sendiri,
meniru, perilaku kelekatan.